Jumat, Oktober 22, 2021

ISLAM DAN MODERNISASI

Kata-kata “modern”, “modernitas”, “modernisasi”, dan “modernisme”, seperti kata lainya yang berasal dari barat, telah dipakai dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata modern diartikan sebagai yang terbaru, secara  baru, mutakhir. Selanjutnya kata  modern erat  pula kaitanya dengan modernisasi yang berarti pembaharuan atau dalam bahasa arabnya biasa dikenal dengan istilah tajdid.
Modernisasi  mulai diperbincangkan pada abad ke-17. Ini terjadi sebagai efek dari  inovasi di masa renaissance yang merubah paradigma masyarakat dunia. Kala itu, kata ini hanya dipahami sebagai proses perubahan menuju  sistem sosial, ekonomi dan politik yang berkembang di Amerika dan Eropa barat. Lama kelamaan kata ini beralih menjadi westernisasi atau pembaratan.
Secara teoritis, kata ini juga diartikan  sebagai suatu  bentuk  perubahan  sosial. Modernisasi juga merupakan  direct change (perubahan terarah) yang  pada hakekatnya masuk dalam  ranah  kajian social planning (perencanaan sosial).
Orientalis Kenneth Cragg mengartikan modernisasi sebagai perubahan semangat hidup Islam dengan tuntutan kehidupan. Lebih menukik lagi, dia menyebutnya dengan perubahan pada ajaran Islam. Senada dengan Cragg, AS. Triton, guru besar Bahasa Inggris Universitas London mengatakan seperti di bawah ini, ketika menuduh Muhammad Abduh, tokoh pembaharu di Mesir. “He became the leader if those who felt something wrong with Islam and yet remained faithful to it” (Ia menjadi tokoh bagi orang-orang yang merasakan adanya sesuatu yang tidak beres dalam Islam,  akan tetapi anehnya ia tetap berpegang pada ajarannya).
Ide mendasar yang hendak diungkap dua orientalis di atas yaitu kaum muslimin perlu mengubah paradigmanya dalam memahami ajaran Islam. Menurutnya, Islam yang dipahami sekarang, haruslah diubah agar sesuai dengan konteks pandangan dunia (world view) abad ini. Islam, kadang dianggap sebagai agama yang tidak akomodatif menyesuaikan zaman. Apakah betul?
Dalam Islam, perdebatan ini cukup populer pada abad ke-19 dan 20. Masa ini adalah masa down-nya kekuatan Islam. Ini ditambah lagi dengan dengan runtuhnya institusi Khilafah Islamiyah di Turki oleh Musthafa Kamal Attaturk tahun 1924. Menurut Attaturk, perlu ada sekularisasi di dunia Islam, agar bisa mengejar ketertinggalan dari bangsa Barat.
Attaturk nampaknya seorang yang dilumuri rasa inferiority complex (rendah diri). Tak berdaya melihat kejayaan budaya barat. Seharusnya sebagai bangsa timur Islam ia mempertahankan khasanah ketimurannya. Terlepas dari itu semua, ada yang menyebut Attaturk sebagai agen barat yang disusupi untuk merusak kaum muslimin.
Selain Attaturk, sekularisasi juga disyiarkan oleh Ali Abdurraziq (1888-1966). Bukunya al-Islam wa Ushul al-Hukm menggemparkan khalayak. Kenapa? Karena buku yang terbit tahun 1925 itu—setahun pasca runtuhnya khilafah—menggagas adanya dikotomi antara politik dan agama sekaligus menggugat institusi khilafah.
Rasulullah, menurutnya, hanya membawa misi agama, tidak membawa misi politik ; hanya sebagai Nabi, bukan untuk penguasa politik; hanya mengajarkan agama, bukan membangun negara. Islam adalah pandangan spiritual, bukan institusi politik, katanya.
Pemikiran ini juga menjadi diskursus di Indonesia. Ada Bung Karno versus Natsir dan Ahmad Hassan, ada Cak Nur versus HM. Rasyidi dan seterusnya. Pada dasarnya, perdebatan ini berada pada wilayah pemahaman atas teks dan konteks keagamaan yang dibesarkan oleh pengalaman pendidikan yang berbeda.
Dalam menyikapi modernisasi, menurut DR. Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya al-Muslimin wal ‘Aulamah kaum muslimin terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, yang menerima ide barat secara mutlak; kedua, yang menolak sama sekali ide barat; dan ketiga, yang menerima secara selektif. Kelompok ketiga, oleh ulama internasional yang juga murid dari Imam Hasan al-Banna—pendiri al-Ikhwan al-Muslimun Mesir—itu disebut dengan “kelompok moderat.”
Penulis sepakat dengan kelompok ketiga yang moderat. Karena kalau ditelusuri lebih jauh, ternyata tidak ada peradaban manapun yang berdiri sendiri. Selalu ada asimilasi dan akulturasi antar bangsa. Barat modern juga sebenarnya maju karena pengaruh kemajuan Islam. Begitu juga Islam dalam konteks kekinian, perlu saling mengambil manfaat. Tapi, tetap dalam kaidah kebersamaan sesama umat manusia secara selektif. Ide seperti ini tampaknya belum banyak diaplikasikan oleh umat Islam.
Kita bisa lihat dalam realitas. Budaya barat yang negatif pun diambil juga. Kenapa bukan budaya membaca, atau yang bernuansa kreatif-inovatif? Tampaknya, ummat Islam juga masih ada yang mengalami rasa inferiority complex. hal ini disebabkan karena belum memiliki keyakinan terhadap budaya Islam secara hakiki.
Modernisme haruslah dimaknai dengan saling bersahabat antar sesama anak manusia. Kelak ketika ummat manusia bersatu maka tidak ada lagi barat dan timur. Semua satu, menuju yang Maha Satu. Entah kapan hal itu akan terjadi.

Related Articles

Kapolri: Jangan Ragu Pecat dan Pidanakan Anggota Yang Melanggar!

Newstipikor.com Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan secara tegas kepada seluruh jajarannya untuk memberikan tindakan tegas kepada oknum anggota kepolisian yang melanggar aturan...

Minimalisir Penyalahgunaan Senpi, Kapolres Sinjai Cek Langsung Senpi Dinas Yang Dipinjam Pakaikan Kepada Anggota.

Newstipikor.com Sinjai - Kepala Kepolisian Resor Sinjai Ajun Komisaris Besar Polisi (Akbp) Iwan Irmawan,S.Ik.,M.Si didampingi Wakapolres Sinjai Kompol Joko Sutrisno dan para Kabag serta Kasi...

Menteri LHK Siti Nurbaya diminta Mundur dari Jabatan Aksi Demonstrasi RECLAASSEERING INDONESIA Perwakilan Wilayah se-Sulawesi Beserta Badan Hukum Untuk Negara

NewsTipikor | Jakarta - Terkait dengan sengketa tapal batas tanah Cisalada, kabupaten Pangandaran, provinsi Jawa Barat, dengan desa Cikalong, kabupaten Ciamis, sejak tahun 1937...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

Kapolri: Jangan Ragu Pecat dan Pidanakan Anggota Yang Melanggar!

Newstipikor.com Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan secara tegas kepada seluruh jajarannya untuk memberikan tindakan tegas kepada oknum anggota kepolisian yang melanggar aturan...

Minimalisir Penyalahgunaan Senpi, Kapolres Sinjai Cek Langsung Senpi Dinas Yang Dipinjam Pakaikan Kepada Anggota.

Newstipikor.com Sinjai - Kepala Kepolisian Resor Sinjai Ajun Komisaris Besar Polisi (Akbp) Iwan Irmawan,S.Ik.,M.Si didampingi Wakapolres Sinjai Kompol Joko Sutrisno dan para Kabag serta Kasi...

Menteri LHK Siti Nurbaya diminta Mundur dari Jabatan Aksi Demonstrasi RECLAASSEERING INDONESIA Perwakilan Wilayah se-Sulawesi Beserta Badan Hukum Untuk Negara

NewsTipikor | Jakarta - Terkait dengan sengketa tapal batas tanah Cisalada, kabupaten Pangandaran, provinsi Jawa Barat, dengan desa Cikalong, kabupaten Ciamis, sejak tahun 1937...

Kapolres Sinjai Tinjau Vaksinasi Massal Yang Digelar Bersama Pemda, Polres Sinjai dan PC. IMM Sinjai.

Newstipikor.com Sinjai - Kepala Kepolisian Resor Sinjai, Ajun Komisaris Besar Polisi (Akbp) Iwan Irmawan, S.Ik.,M.Si meninjau langsung pelaksanaan vaksinasi massal di lapangan Basket Indoor Sinjai,...

Tertib Berlalulintas, Polres Sidrap Teken MoU Dengan Dikbud Sidrap

Newstipikor.com Tekan Lakalantas Pelajar, Satlantas Polres Sidrap dan Dikbud Teken MoU SIDRAP, - Tertib Berlalulintas, Sat Lantas Polres Sidrap bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten...
%d blogger menyukai ini: